Komisi Pemilihan Umum Kab. Banyuwangi

Kaum Milenial Sebagai Agen Informasi

Banyuwangi, (20/2) Rangkaian kegiatan sosialisasi yang diselenggarakan oleh KPU Kabupaten Banyuwangi pada kesempatan kali ini bertempat di Kampus Universitas Airlangga (UNAIR) Kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi. Sosialisasi yang dipimpin oleh Penanggungjawab Divisi SDM & Parmas, Bapak Jamalludin tersebut mengangkat tema “Sosialisasi Pemilih Pemula Dalam Pemilihan Umum Tahun 2019”. Narasumber kegiatan ini adalah Bapak Bambang Wiyanto sebagai Perwira Bantuan Hukum di Polres Banyuwangi, serta Bapak Wiyono dari BAKESBANGPOL. Sosialisasi yang berlangsung pada pukul 15.00 WIB tersebut juga dihadiri oleh 8 (delapan) dosen UNAIR dan mahasiswa/mahasiswi UNAIR.

Dalam kegiatan ini, Bapak Jamalludin yang sekaligus bertindak sebagai moderator menyatakan, “karena mahasiswa/mahasiswi adalah insan yang berpendidikan, maka tidak boleh golput.” Mengingat mahasiswa/mahasiswi adalah kaum milenial yang berperan sebagai agent of information di lingkunganya. Maka setidaknya setelah sosialisasi ini berlangsung, mahasiswa/mahasiswi dapat meneruskan informasi yang didapat dalam sosialisasi kepada teman-temanya. Mengingat jumlah pemilih pemula cukup besar, yaitu sekitar 42 (empat puluh dua) juta pemilih.

Adapun Bapak Wiyono menjelaskan, salah satu ciri demokrasi adalah adanya lembaga pemilu. Berdasarkan pancasila, pemilu adalah tanggung jawab setiap warga negara. Pemilu merupakan gerbang bangsa Indonesia untuk menentukan pemimpin. Pemilu dapat dikatakan sukses jika memenuhi 3 (tiga) hal diantaranya; proses pendaftaran bakal calon harus damai, aman, dan sejahtera. Karena jika prosesnya indah, maka hasilnya juga indah, pemilu sukses jika pada saat pemungutan suara menganut asas-asas pemilu, yaitu langsung, umum, bebas, rahasia (LUBER), serta hasil dari pemilu dapat diterima oleh seluruh rakyat Indonesia.

Pesan beliau, pilihan boleh berbeda, kesatuan harus dijaga. Siapapun yang menjadi Presiden harus diterima dengan lapang dada. Karena kita semua bersaudara dan satu keluarga besar Indonesia.

Penjelasan selanjutnya oleh Bapak Bambang Wiyanto, beliau menjelaskan tentang dampak media sosial (medsos) jika dilihat dari pandangan hukum. Pengguna media sosial membawa dampak hukum jika tidak digunakan secara bijak. Jika konten di medsos mengadung sara dan hoax, maka terancam UU ITE dan dipenjara 6 (enam) tahun. Karena jejak digital tidak bisa dihapus, kepolisian punya alat untuk mendeteksi jejak digital tersebut.

Maka dari itu, tetap harus mematuhi aturan yang berlaku agar pesta demokrasi berlangsung dengan tertib dan aman.

Beliau berpesan, agar mahasiswa/mahasiswi UNAIR menjadi pelopor untuk keberhasilan pemilu. Hal ini bisa dimulai dari diri sendiri dengan tidak golput. Karena orang yang golput adalah orang yang putus asa dan tidak mempunyai pilihan. Selain itu, maksud pelopor dalam hal ini adalah mahasiswa/mahasiswi diharapkan bisa menjadi pelopor bagi keluarganya/lingkunganya untuk mensosialisasikan pemilihan umum tahun 2019 dan tata cara mencoblos yang benar.

Demikian kegiatan sosialisasi ini berlangsung, kegiatan ini ditutup dengan closing statement dari Bapak Jamalludin, Beliau menyatakan, setiap warga negara harus menggunakan hak pilihnya, one person one choice. Jadi satu orang satu suara. (Novita.K.W Staff KPU Kabupaten Banyuwangi)

PKPU TENTANG REKAPITULASI PEMILU 2019

Banyuwangi, kpud-banyuwangikab.go.id - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia telah menetapkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 4 Tahun 2019 tanggal 29 Januari 2019 tentang Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Penetapan Hasil Pemilihan Umum. PKPU Nomor 4 Tahun 2019 ini ditetapkan berdasarkan ketentuan Pasal 395 ayat (1), Pasal 400 ayat (1), Pasal 404 ayat (1), dan Pasal 408 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, perlu menetapkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum tentang Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara dan Penetapan Hasil Pemilihan Umum. Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 4 Tahun 2019 ini dapat diunduh di bawah ini.

KPU RI Adakan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Pemilu Serentak Tahun 2019 di Banyuwangi

Banyuwangi, (19/2) bertempat di Hotel El-Royale Kabat Banyuwangi, KPU Republik Indonesia menyelenggarakan Sosialisasi Pendidikan Pemilih Pemilu Serentak Tahun 2019. Sasaran dalam sosialisasi tersebut adalah kaum muda/generasi milenial Se-Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh komunitas-komunitas proaktif di Banyuwangi. Kegiatan yang dimulai pada pukul 08.00 WIB tersebut dihadiri oleh Komisioner KPU Kabupaten Banyuwangi diantaranya; Bapak Syamsul Arifin, Bapak Jamalludin, Bapak Suherman, Ketua Bawaslu Jawa Timur, Ketua Bawaslu Kabupaten Banyuwangi, Sekretaris KPU Kabupaten Banyuwangi, Tim KPU Provinsi Jawa Timur, 3 (tiga) anggota Panitia Pemilihan Kecamatan Kabat, Serta staf KPU Banyuwangi. Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, terutama menanamkan kesadaran pada generasi milenial untuk berperan dalam pemilu tahun 2019.

Kegiatan sosialisasi dibuka oleh Ketua KPU Banyuwangi, Bapak Syamsul Arifin. Beliau memberikan sekapur sirih mengenai persiapan-persiapan yang telah dilaksanakan oleh KPU Kabupaten Banyuwangi menjelang pemilu. Beliau mengatakan, seluruh warga negara mempunyai hak suara untuk menentukan suksesi pemilu.

Setelah kegiatan ini dibuka, Ibu Ira Rahmawati sebagai moderator dan Bapak Jamalludin sebagai penaggungjawab Divisi SDM & Parmas serta Anggota Komisi II DPR RI, Ibu Hj. Nihayatul Wafiroh, MA. sebagai narasumber memberikan materi tentang pemilu tahun 2019.

Anggota Komisi II DPR RI tersebut menjelaskan mengenai perbedaan pemilu pada tahun 2014 dan 2019. Beliau mengatakan, pemilu tahun 2019 adalah pemilu terumit di dunia. Oleh karena itu pada kesempatan ini, Ibu Nihayatul Wafiroh menjelaskan secara detail tentang jenis surat suara dan warna surat suara, tata cara mencoblos yang benar,  perbedaan money politic dan political cost, serta tugas DPR dan DPD. Beliau menekankan bahwa pemilu tahun 2014 dilaksankan secara terpisah untuk memilih anggota legislatif dan presiden/wakil presiden. Sedangkan pada pemilu tahun 2019, pemilihan legislatif dan pemilihan presiden dilaksanakan secara serentak.

Beliau menegaskan, Pemilu adalah hak semua bangsa, termasuk difabel dan tuna netra. Bagi pemilih tuna netra, disediakan kertas suara dengan huruf Braile.

Kemudian Penanggungjawab Divisi SDM & Parmas menjelaskan materi mengenai pemilu, penyelenggara pemilu, asas pemilu, dan langkah menjadi pemilih cerdas. Pesan utama yang disampaikan Bapak Jamalludin adalah, generasi milenial harus kritis dan cerdas dalam menentukan pemimpin. Karena kaum muda adalah agent of change di lingkunganya masing-masing. Diharapkan juga, kaum muda yang mengikuti sosialisasi ini dapat meneruskan pesan kepada saudara/temannya untuk dapat berperan serta dalam pemilu dengan menggunakan hak suara pada hari Rabu, Tanggal 17 April tahun 2019. (Novita.K.W Staff KPU Kabupaten Banyuwangi)

Page 1 of 160

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »

Jejak Pendapat

Menurut anda, bagaimanakah cara pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah (Gubernur/Bupati/Walikota) yang baik/tepat?




Results

Temukan Kami

Facebook
twiter
Google+

Kontak Support

Bag. Teknis:
Bag. Hukum:
Bag. Program:
Bag. Umum:
You are here: Home